Selasa, 01 Oktober 2019

Pemanfaatan Grafik Komputer dan Pengolahan Citra pada Sistem Deteksi Cuaca


Hello everyone!
Pada pembahasan kali ini, aku akan membahas suatu topic yang sangat menarik yaitu Penerapan Grafik Komputer dan Pengolahan Citra pada Sistem Deteksi Cuaca.

Aku yakin banyak dari kalian yang suka melihat kondisi cuaca pada hari kalian ingin sekolah atau jalan ke suatu tempat agar dapat meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Mari kita ambil contoh ketika kalian sedang pergi menuju sekolah, namun ditengah-tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya. Andai saja kalian melihat prediksi cuaca hari itu mungkin kalian bisa menyediakan paying agar seragam kalian tidak basah. Akan tetapi, pernahkah kalian penasaran dengan bagaimana aplikasi prediksi cuaca dapat memprediksi cuaca selama beberapa jam kedepan? Mungkin kalian akan menyangkal dengan berkata, “Ah, tapi terkadang prediksian tersebut tidaklah tepat.”. Ya, hal tersebut merupakan prediksian semata dimana kita sebagai manusia tidak dapat memprediksikan sesuatu dengan tepat, tetapi apakah kalian tidak penasaran bagaimana kita dapat melakukan prediksian tersebut? Nah, hal berikut adalah apa yang akan kita bahas pada pembahasan kali ini.

Pertama, kita akan bahas dulu apa itu grafik dan citra. Jika kalian mencarinya di search engine maka kalian akan merasa bingung tentunya karena secara harfiah 2 kata tersebut nyaris memiliki makna yang sama. Ya, “Gambar” adalah kata yang tepat untuk mewakili kedua kata tersebut. Akan tetapi, tedapat perbedaan mengenai makna gambar yang dimaksud oleh kedua kata tersebut.
Dalam grafik, gambar yang dimaksud berbentuk seperti pie,ikon, dan lain-lain. Sedangkan dalam citra, gambar yang dimaksud seperti pas foto. Untuk lebih jelasnya, perbedaan antara mereka adalah grafik dibuat melalui data-data yang diperoleh sedangkan, citra dibuat dari capture atau potret dari suatu alat.

Agar kalian lebih memahami maksudnya, aku akan memberikan kalian contoh untuk memperdalam pengertian grafik dan citra dengan 1 hal yang sama yaitu sistem deteksi cuaca.
Dalam sistem deteksi cuaca, penerapan grafik komputer memanfaatkan Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis (SIG). Bagaimana penerapannya? SIG akan melakukan pendataan melalui satelit kemudian memasukkan data-data tersebut ke database lalu dilakukan analisa berdasarkan data-data tersebut dan diolah sehingga menghasilkan informasi yang ,tentunya, bermanfaat untuk kita semua. Data yang diperlukan berupa kecepatan angin, kondisi awan, dan lain-lainnya yang mempengaruhi suatu lingkungan terhadap kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan cuaca. Misalkan, kecepatan angin akan berpengaruh karena ia akan membawa awan menuju tempat ia menghembuskannya. Andai kata, awan tersebut membawa air yang cukup banyak sehingga memungkinkan untuk terjadinya curah hujan yang lebat maka, kecepatan angin tersebut akan menentukan dimana dan kapan awan itu akan berhenti dan hujan terjadi. Bagian manakah peran grafik dalam sistem ini? Data-data yang sudah didapatkan tentunya akan dibuat grafik secara otomatis bagaimana suhu suatu kota, apakah meningkat atau menurun? Tentunya, masih banyak hal lain yang didapatkan berdasarkan grafik tersebut berdasarkan apa kebutuhan atau apa yang kita ingi cari tahu.

Lalu bagaimana dengan pengolahan citra? Saat SIG melakukan pendataan melalui satelit tentunya satelit akan mengirimkan gambar atau cuplikan seperti bagaimana awan tersebut terlihat lalu bagaimana suasana atau keadaan tempat awan tersebut kemungkinan menurunkan hujan kemudian apakah tempat awan tersebut akan menurunkan hujan terdapat kemungkinan terjadinya banjir atau tidak, dan masih banyak hal lain yang dapat diketahui.  Hal tersebut dikemas dengan menarik dalam aplikasi pendeteksi cuaca agar lebih dapat memberi penggambaran yang jelas kepada pengguna.

Berikut adalah contoh aplikasi deteksi cuaca yang memanfaatkan grafik komputer dan pengolahan citra dan juga bagaimana SIG bekerja :



Kalian bisa lihat sendiri bagaimana satelit memberitahukan letak tempat kita,suhu di kota kita, perkiraan-perkiraan lainnya dalam rentang waktu yang ditetapkan, serta bagaimana keadaan geografis tempat-tempat saat terjadi pergantian cuaca.

Sekian pembahasan dari aku. Semoga bermanfaat!


DAFTAR PUSTAKA
https://kominfo.go.id/content/detail/14272/awal-musim-hujan-akan-datang-bmkg-imbau-masyarakat-waspada-cuaca-ekstrem/0/berita
https://geo-media.blogspot.com/2016/08/tahapan-kerja-sig.html

Kamis, 04 Juli 2019

Perbandingan ITIL dan COBIT


A. ITIL
Framework atau Kerangka Kerja adalah suatu struktur konseptual dasar yang digunakan untuk memecahkan atau menangani suatu masalah yg kompleks. Dalam bidang Teknologi Informasi, framework merupakan suatu penggambaran dari suatu konsep untuk membantu para praktisi bisnis (Staff IT).
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) adalah suatu kerangka kerja dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi Teknologi Informasi (TI).
Nama ITIL merupakan merek dagang Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya. ITIL memberikan deskripsi rinci mengenai beberapa praktik (best practice) penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi dalam hal TI.
5 domain proses utama ITIL,  yaitu :

1. Service Strategy
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.

2. Service Design
Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice dalam mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi layanan TI.

3. Service Transition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan  lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam  Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

4. Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efektif dan efisien serta menjamin tingkat kinerja yang telah disepakati dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaimana menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.

5. Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi, dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagai Deming yaitu siklus peningkatan proses (Process Improvement) yang berkesinambungan atau secara terus menerus seperti lingkaran yang tidak ada akhirnya.

B. COBIT
COBIT (Control Objective for Information and Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen untuk menjembatani antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol, dan masalah-masalah teknis TI (Sasongko, 2009).
COBIT mendukung tata kelola TI dengan menyediakan kerangka kerja untuk mengatur keselarasan TI dengan bisnis. Selain itu, kerangka kerja juga memastikan bahwa TI memungkinkan bisnis, memaksimalkan keuntungan dengan memanfaatkan TI dikelola secara tepat, dan sumber daya TI digunakan secara bertanggung jawab (Tanuwijaya dan Sarno, 2010).
Komponen COBIT :

1. Framework
Mengatur tata kelola TI, tujuan, dan praktik oleh TI domain dan proses, serta menghubungkan mereka dengan kebutuhan bisnis.

2. Process descriptions
Sebuah proses referensi model dan bahasa yang umum bagi semua orang dalam sebuah organisasi. Peta proses untuk wilayah tanggung jawab merencanakan, membangun, menjalankan, dan memantau.

3. Control objectives
Menyediakan satu set lengkap persyaratan tingkat tinggi untuk dipertimbangkan oleh manajemen untuk kontrol yang efektif dari setiap proses TI.

4. Pedoman manajemen
Bantuan tanggung jawab menetapkan, menyepakati tujuan, mengukur kinerja, dan menggambarkan hubungan timbal balik dengan proses lainnya.

5. Maturity models
Menilai kematangan dan kemampuan per proses dan membantu untuk mengatasi kesenjangan.

Kerangka Kerja COBIT :

1. Control Objectives
Terdiri atas empat tujuan pengendalian tingkat tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam empat domain, yaitu: Planning & Organization, Acquisition & Implementation, Delivery & Support, dan Monitor and Evaluate. 

a. Perencanaan dan Organisasi (Planning and Organization)
Domain ini mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.

b. Pengadaan dan Implementasi (Acquire and Implement)
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dibangun atau diperoleh dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.

c. Pengantaran dan Dukungan (Deliver and Support)
Domain ini berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri dari operasi pada security dan aspek kesinambungan bisnis sampai dengan pengadaan training.

d. Pengawasan dan Evaluasi (Monitor and Evaluate)
Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.

2. Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.

3. Management Guidelines
Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang harus dilakukan.


C. Keuntungan dan Kerugian ITIL dan COBIT
Keuntungan ITIL, menurut Cartlidge (2007, p8), antara lain :
- Meningkatkan kepuasan pengguna dan pelanggan terhadap layanan IT.
- Memperbaiki manajemen sumber daya dan keuangan.
- Memperbaiki pembuatan keputusan dan mengoptimalkan resiko.
- Memperbaiki waktu terhadap pasar untuk produk baru dan layanan.

Kerugian ITIL antara lain :
Buku-buku ITIL sulit terjangkau bagi pengguna non komersial.
- ITIL bersifat holistic yang mencakup semua kerangka kerja untuk tata kelola TI.
- Pelaksanaan pedoman dalam buku ITIL memerlukan pelatihan khusus.
- Biaya pelatihan atau sertifikasi ITIL terlalu tinggi.

Kelebihan COBIT antara lain :
- Rahasia.
Proteksi terhadap informasi yang sensitif dari akses yang tidak bertanggung jawab.
Integritas.
Berhubungan dengan ketepatan dan kelengkapan dari sebuah informasi.
Ketersediaan.
-          Berhubungan dengan tersedianya informasi ketika dibutuhkan oleh proses bisnis sekarang dan masa depan.
      - Kepatuhan Nyata.
Berhubungan dengan penyediaan informasi yang sesuai untuk manajemen.

Kerugian COBIT antara lain :
COBIT hanya memberikan panduan kendali dan tidak memberikan panduan implementasi operasional. Oleh karena itu, perlu diadopsi berbagai framework tata kelola operasional seperti ITIL.
- COBIT hanya berfokus pada kendali dan pengukuran.
- COBIT kurang dalam memberikan panduan keamanan, namun memberikan wawasan umum atas proses TI pada organisasi.

D. Persamaan ITIL dan COBIT

Dijadikan sebagai IT governance framework.
- Memberikan pedoman pada perusahaan bahwa keputusan-keputusan strategis IT tidak hanya berada pada CIO (Chief of Information Officer) tetapi, pada direksi, komisaris, dan pemegang saham.
- COBIT dan ITIL biasa digunakan bersamaan untuk membantu pemeliharaan dan manajemen perusahaan jasa TI.
- COBIT dan ITIL adalah standar yang cakupan areanya adalah menengah ke bawah.
- COBIT dan ITIL cocok jika dijadikan sebagai IT management framework.

E. Perbedaan ITIL dan COBIT

·         Kerangka kerja COBIT memasukkan hal-hal berikut ini : Control Objectives, Audit Guidelines, dan Management Guidelines.

Kerangka kerja ITIL digunakan untuk mengelola infrastruktur teknologi dan informasi dalam suatu organisasi dan bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pengguna teknologi informasi.

Simpulan

ITIL dapat digunakan untuk memperbaiki proses TI untuk memenuhi tujuan perusahaan (termasuk keamanan). Sedangkan, COBIT dapat digunakan untuk menentukan apakah kebutuhan perusahaan didukung oleh IT. 
ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan TI untuk mencapai tujuan organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa ITIL dan COBIT merupakan dua pendekatan dalam tata kelola TI dan tata kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi, sedangkan COBIT mengatur masalah tujuan yang harus dicapai oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan TI.
Secara umum dapat dikatakan bahwa COBIT merupakan sebuah model tata kelola TI yang memberikan sebuah arahan yang lengkap mulai dari sistem mutu, perencanaan, manajemen proyek, keamanan, pengembangan dan pengelolaan layanan. Arahan dari COBIT kemudian didetailkan kembali oleh beberapa model framework sesuai dengan perkembangan keilmuan. Sehingga kebanyakan perusahaan-perusahaan lebih menyukai menggunakan COBIT dan mengombinasikannya dengan framework lain yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 19 April 2019

COBIT

COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) merupakan sekumpulan dokumentasi dan panduan yang mengarahkan pada IT governance yang dapat membantu auditor, manajemen, dan pengguna (user) untuk menjembatani pemisah antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol, dan permasalahan-permasalahan teknis. COBIT dikembangkan oleh IT governance Institute (ITGI) yang merupakan bagian dari Information Systems Audit and Control Association (ISACA).

Menurut Campbell, COBIT merupakan suatu cara untuk menerapkan IT governance.
COBIT merupakan kombinasi dari prinsip-prinsip yang telah ditanamkan yang dilengkapi dengan balance scorecard dan dapat digunakan sebagai acuan model (seperti COSO) dan disejajarkan dengan standar industri, seperti ITIL, CMM, BS779, ISO 9000.

Cobit memiliki 4 Cakupan Domain :

1. Perencanaan dan Organisasi (Planning and Organization)
Domain ini mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI dapat memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian tujuan bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.
2. Pengadaan dan Implementasi (Acquire and Implement)
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dibangun atau diperoleh dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis.
3. Pengantaran dan Dukungan (Deliver and Support)
Domain ini berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri dari operasi pada security dan aspek kesinambungan bisnis sampai dengan pengadaan training.
4. Pengawasan dan Evaluasi (Monitor and Evaluate)

Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.

Untuk memenuhi tujuan bisnis, informasi perlu memenuhi kriteria tertentu, adapun 7 kriteria informasi yang menjadi perhatian COBIT, yaitu sebagai berikut:


1. Effectiveness (Efektivitas) : Informasi yang diperoleh harus relevan dan berkaitan dengan proses bisnis, konsisten dapat dipercaya, dan tepat waktu.
2. Effeciency (Efisiensi) : Penyediaan informasi melalui penggunaan sumber daya (yang paling produktif dan ekonomis) yang optimal.
3. Confidentially (Kerahasiaan) : Berkaitan dengan proteksi pada informasi penting dari pihak-pihak yang tidak memiliki hak otorisasi/tidak berwenang.
4. Intergrity (Integritas) : Berkaitan dengan keakuratan dan kelengkapan data/informasi dan tingkat validitas yang sesuai dengan ekspetasi dan nilai bisnis.
5. Availability (Ketersediaan) : Fokus terhadap ketersediaan data/informasi ketika diperlukan dalam proses bisnis, baik sekarang maupun dimasa yang akan datang. Ini juga terkait dengan pengamanan atas sumber daya yang diperlukan dan terkait.
6. Compliance (Kepatuhan) : Pemenuhan data/informasi yang sesuai dengan ketentuan hukum, peraturan, dan rencana perjanjian/kontrak untuk proses bisnis.

7. Reliability (Handal) : Fokus pada pemberian informasi yang tepat bagi manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dan pemenuhan kewajiban mereka untuk membuat laporan keuangan.
Itu adalah gambaran singkat mengenai COBIT.


Salah satu perusahaan yang menggunakan COBIT adalah PT. SOLMIT BANGUN INDONESIA. Berikut adalah kerangka kerjanya :


Menurut saya, penerapan COBIT sudah sangatlah bagus pada perusahaan ini. Mungkin ada sebagian kalian yang bertanya apa bedanya dengan ITIL yang saya bahas sebelumnya, sebenarnya tidak begitu berbeda hanya beda nama saja dimana seperti yang saya jelaskan diatas COBIT merupakan kombinasi dari standar-standar proses perusahaan yang diwajibkan. Kini COBIT sudah mencapai 5.0, dimana sudah banyak penyempurnaan lainnya yang membuat banyak perusahaan akan semakin baik tentunya mulai dari awal beroperasi hingga pengauditan yang akan dilakukan setiap tanggal yang telah ditetapkan perusahaan tersebut untuk mengetahui seberapa besar usaha mereka dalam mencapai tujuan mereka dan tentunya untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan atau apa saja yang telah terjadi di perusahaan tersebut.

Sekian dari saya, semoga bermanfaat!
Daftar Pustaka

Perbedaan BRM dan SLM


Kali ini, saya akan membahas perbedaan BRM dan SLM. Apa itu BRM dan SLM? 

BRM adalah singkatan dari Business Relationship Management atau Manajemen Hubungan Bisnis sedangkan, SLM adalah singkatan dari Service Level Management atau Layanan Manajemen Tingkat.

Mereka berdua adalah prinsip umum dari Hubungan Bisnis Manajemen. Sebelum saya menjelaskan mengenai perbedaan  BRM dan SLM, saya akan jelaskan sedikit mengenai kedua hal tersebut.

BRM adalah prinsip yang berfokus kepada kepuasan pelanggan dimana menurut saya, prinsip ini sedikit kurang menguntungkan bagi pelanggan. Mengapa? Karena mereka hanya berpacu pada kepuasan pelanggan dimana tidak semua pelanggan dapat diperlakukan sama.

Sedangkan, SLM juga memiliki prinsip yang berpacu kepada kepuasan pelanggan hanya saja terdapat tingkatan atau level dalam melayani pelanggan. Dimana semua pelanggan tidak sama levelnya pada prinsip ini.

Mari kita ambil contoh kasus.

Anggap saja Bank “A” memiliki 2 kategori nasabah yaitu biasa dan prioritas. Bank tidak mungkin menerapkan BRM pada hal ini, kenapa? Karena salah satu pihak nasabah mungkin akan merasa dirugikan. Bayangkan jika nasabah prioritas yang menabung lebih banyak  dari nasabah biasa tentunya akan memberikan keuntungan lebih kepada bank namun, diperlakukan sama dengan nasabah biasa tanpa keistimewaan yang lebih akan membuat para nasabah prioritas merasa dirugikan atau tidak adil. Sehingga penerapan SLM dalam kasus ini sangatlah efektif.

Maka menurut saya, SLM lebih efektif dibandingkan dengan BRM. Karena semakin tinggi pelanggan memberi kepada kita maka, kita akan semakin diuntungkan. Oleh karena itu, anggap saja kita seperti memberi reward kepada pelanggan tersebut.

Sekian, semoga bermanfaat!

DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://lily.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/48491/Pert2.pptx&ved=2ahUKEwiauu_29_PhAhX-63MBHXZkBvcQFjACegQIARAB&usg=AOvVaw1WLrbEIiRzDTmuNN96Ksxa

Jumat, 29 Maret 2019

Peran ASYST dalam Manajemen Layanan TI maskapai di bandara


Jadi, sekarang kita akan membahas topic yang berbau IT tentu saja dengan tema “Peran ASYST dalam Manajemen Layanan TI maskapai di bandara”.
Sebelum masuk kedalam pembahasan kali ini, aku akan menjelaskan sedikit mengenai Manajemen Layanan TI.
Manajemen Layanan TI atau MLTI dilakukan oleh penyedia layanan TI melalui kombinasi yang tepat dari teknologi, SDM yang ada di perusahaan atau manusia,proses, informasi, dan mempertimbangkan kualitas layanan yang mereka berikan dan fokus pada hubungan dengan pelanggan.
Akhir-akhir ini, TI dan komunikasi dianggap sebagai sebuah infrastuktur bisnis. Ada 3 hal yang akan muncul ketika kita membahas tentang MLTI yaitu ITIL dan ITSM.
ITIL merupakan kepanjangan dari Information Technology Infrastructure Library. ITIL adalah standar inti atau manajemen pelayanan TI. Maka, ketika kalian ingin mengetahui apakah suatu perusahaan sudah sesuai standar ITIL yang tentunya diakui secara internasional.
Ada apa aja dalam ITIL?
1. Service Strategy      : analisa kebutuhan sistem untuk melayani pelanggan seperti SOP,apakah SDM nya mencukupi.
2. Service Design        : setelah dianalisa, kita mulai design secara keseluruhan organisasi misalnya, server atau vendor apa yang ingin digunakan.
3. Service Transition   : bagaimana caranya organisasi bertransformasi dalam menjalankan perubahan dari yang sebelumnya.
4. Service Operation   : mendeskripsikan secara detail tentang inti dari rangkaian proses manajemen.
5. Continual Service Improvement : perbaikan terus menerus dari masa ke masa.
ITSM adalah metode pengelolaan sistem teknologi informasi yang terpusat pada sudut pandang konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan.
Ada 3 fungsi ITSM yaitu :
            1. Seluruh titik, entitas harus bersangkutan memperoleh data informasi sebagaimana                          diperlukan.
            2. Informasi sebagai bagian tak terpisahkan dari rangkaian proses produksi atau                                  pelayanan.
            3. Tersalurkannya informasi sebagai bagian konten dalam berkomunikasi,berkolaborasi,                     dan kooperasi.
Oke sekarang perusahaan yang akan kita bahas adalah PT. ASYST (Aero Systems Indonesia) yang merupakan anak perusahaan dari PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk.
Seperti yang kalian tahu, bahwa pesawat memainkan peran penting ketika kita ingin melakukan perjalanan jauh baik dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, sistem teknologi informasi merupakan pendukung yang tidak kalah penting di bandara yang membantu menghubungkan setiap bandara yang ada di Indonesia. Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) telah merevolusi bisnis di industri penerbangan, di mana teknologi saat ini berperan penting untuk operasional dan strategi manajemen dari maskapai termasuk di bandara.
Diperlukannya kecepatan dan efisiensi waktu bagi operasional maskapai penerbangan di bandara dalam melayani penumpang mempengaruhi daya saing dari suatu maskapai. Keunggulan kompetitif dibidang ICT akan membantu suatu maskapai dalam memastikan operasi di bandara berjalan dengan akurat, cepat, dan mencapai On Time Performance yang diharapkan.
Menggunakan teknologi Informasi dan Komunikasi terdepan beserta dedikasi human service yang tinggi, ASYST turut membantu operasional maskapai di bandara pada 3 bagian utama:
1.    Reservasi
ASYST menyadari pentingnya sistem ICT terdepan untuk reservasi penumpang dalam rangka meningkatkan pelayanan suatu maskapai di dalam bandara. ASYST di tahun 2012 ini telah melakukan perubahan besar terhadap sistem reservasi airline-nya dengan meng-upgrade keseluruhan sistem pelayanan penumpangnya (PSS) ke release yang terbaru yang dikenal dengan EDS Rel.15. Sistem terbaru ini dapat lebih mengintegrasikan dan memperlancar jalannnya sistem berbagai channel reservasi milik Airline (Sales Office, Travel Agent) maupun pada media reservasi online (Online Web Booking, Mobile Booking) dengan berbagai channel check-in maskapai yang tersedia di bandara (counter check-in yang dilayani petugas check-in, Kiosk Check-in). Salah satu keunggulan lain dari release terbaru ini adalah telah kompatibel-nya sistem yang baru ini dengan IP connection sehingga koneksi yang dilakukan dari display terminal (PC di User) ke Mainframe dapat menggunakan IP dan berbasis GUI.
  1. Network
Untuk memastikan lancarnya traffic jaringan (network) di bandara, ASYST mendukung penyediaan dan maintenance infrastruktur jaringan seperti router, switch, modem, fiber optic network, vdsl,  yang mencakup infrastruktur network untuk ticket sales area, check in area dan juga pelayanan network dari sisi IP management. ASYST menyadari pentingnya infrastruktur network yang tepat, handal, cepat dan time critical, akan sangat penting, karena itu ASYST memberikan pelayanan end to end di sisi infrastruktur network, tidak hanya untuk kebutuhan operasional penerbangan saja tapi juga untuk semua sisi, termasuk aplikasi-aplikasi berbasis network dari maskapai di bandara seperti back office sampai bagian keuangan dan sumber daya manusia. ASYST juga menyediakan manpower untuk  memantau secara rutin setiap network yang tersedia di bandara dan menyediakan tambahan backup connection apabila dibutuhkan.
3.    Desktop atau Hardware
ASYST mendukung penuh ketersediaan desktop atau hardware pendukung di semua area unit operasional pada maskapai di bandara beserta perencanaan dan bentuk antisipasi untuk berbagai macam kendala. ASYST menyiapkan serta memastikan ketersediaan dan kesiapan dari segala sisi untuk desktop atau hardware pendukung di bandara, termasuk diantaranya perangkat pengganti yang selalu tersedia (hotspare) bila terjadi gangguan. ASYST juga menyiapkan tambahan resource atau personil yang standby di area yang kritikal di bandara untuk percepatan resolusi di lokasi. Selain itu, ASYST memaksimalkan juga keterlibatan mitra ASYST untuk desktop atau hardware dalam mendukung  layanan sistem maskapai di bandara agar dapat standby baik di onsite maupun remote coverage sebagai antisipasi percepatan resolusi bila terjadi gangguan baik pada sistem maupun perangkat di bandara.
Menurut pendapat saya, penerapan ITIL maupun ITSM pada perusahaan ASYST sudah sangat bagus. Bagaimana mereka memanajemen penerbangan di bandara dengan baik dan sesuai dengan jam penerbangannya serta betapa cekatannya mereka dalam mengontrol pesawat agar tidak terjadi tabrakan baik dengan pesawat lain maupun dengan awan yang dapat membahayakan penerbangan. Meskipun, seringkali terjadi kecelakaan pesawat namun menurut saya ini sudah lebih dari cukup untuk mengatur hal-hal berikut. Kecelakaan itu wajar ketika kita berkendara dengan media apapun namun, dalam hal meminimalisasikannya yang harus kita laksanakan. Melihat bagaimana ASYST menyediakan orang-orangnya untuk selalu standby, ini merupakan hal yang patut diapresiasi.
Terutama dalam poin kedua, dimana akuratnya mereka dalam mengatur hal-hal tersebut. Tak hanya itu saja, kini kita dipermudah untuk dapat memesan tiketnya secara online yang pastinya menarik banyak minat orang-orang yang mungkin malas membeli secara offline. Sehingga, menurut saya hal ini patut diacungi jempol dalam melakukan pemuasan pelayanan kepada pelanggan.
Sekian dari saya, semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka


Selasa, 01 Januari 2019

Teknologi Modern di Bidang Kesehatan

Halo semuanya!

Kali ini, saya balik untuk membahas tentang teknologi modern apa sajakah yang ada di bidang kesehatan?

Pasti kalian semua bosen kan kalo cuma nge baca aja? Kalo gitu bisa klik link dibawah ini yang akan menyajikannya dalam bentuk video yang diharapkan dapat menambah ilmu kalian semua.

Semoga kalian suka!


https://youtu.be/1bZeVMPyAaA

Senin, 05 November 2018

Tren Teknologi Masa Depan dan Pembahasan Cloud Computing,Mobile Computing,Ubiquitous Computing,Nanoscience, dan Grid Technology


Pada pertemuan kali ini, saya akan membahas tren teknologi yang akan berkembang di masa depan. Ketika kalian mendengar kalimat “tren teknologi masa depan” apa yang terpikir di benak kalian? Kalau saya akan terpikir tentang Big Data. Mungkin kebanyakan dari kalian sudah ada yang mengetahui tentang Big Data, namun jika ada dari kalian yang belum mengetahui tentang Big Data jangan khawatir! Karena akan saya jelaskan tentang Big Data.
Big data adalah istilah yang menggambarkan volume data yang besar, baik data yang terstruktur maupun data yang tidak terstruktur. Big Data telah digunakan dalam banyak bisnis. Tidak hanya besar data yang menjadi poin utama tetapi apa yang harus dilakukan organisasi dengan data tersebut. Big Data dapat dianalisis untuk wawasan yang mengarah pada pengambilan keputusan dan strategi bisnis yang lebih baik.
Mengapa saya menyebut Big Data adalah teknologi yang akan menjadi tren di masa depan? Karena saat ini, semua hal yang berhubungan dengan database akan lebih mudah dilakukan dengan adanya big data dimana semua informasi akan dikumpulkan menjadi 1.
Apa contohnya? Saat ini, Indonesia sedang mencoba mengembangkan big data penduduk dimana hanya dengan melakukan tap dengan kartu tanda penduduknya akan muncul informasi lengkap mengenai seseorang tersebut.

Mari kita berdoa semoga usaha ini berhasil!
Lalu saya akan menjelaskan sedikit hal yang berhubungan dengan Big Data. Ayo disimak!

Cloud Computing
Adalah tempat penyimpanan data. Bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia akan memiliki arti “Komputasi Awan”, yang berarti gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan internet (awan). Awan atau cloud adalah metafora dari internet dimana seringkali awan digambarkan dalam diagram jaringan komputer. Sebagaimana awan dalam diagram jaringan komputer tersebut, awan atau cloud dalam Cloud Computing juga merupakan abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.
Menurut sebuah makalah tahun 2008 yang dipublikasi IEEE Internet Computing "Cloud Computing adalah suatu paradigma di mana informasi secara permanen tersimpan di server di internet dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client) termasuk didalamnya adalah desktop, komputer tablet, notebook, komputer tembok, handheld, sensor-sensor, monitor dan lain-lain."
Komputasi awan atau Cloud Computing merupakan trend teknologi terbaru saat ini dengan contoh bentuk pengembangan dari teknologi ini adalah iCloud. 

JENIS-JENIS CLOUD COMPUTING
Ternyata cloud computing memiliki jenisnya tersendiri. Jenis dari coud computing terbagi menjadi 3 yaitu SaaS,PaaS, dan IaaS. Apa itu? Mari kita bahas secara singkat!

1. Software as a Service (SaaS)
Salah satu layanan dari Cloud Computing dimana kita tinggal memakai software atau perangkat lunak yang telah disediakan.
Contohnya, layanan email publik (Gmail, YahooMail, Hotmail), social network (Facebook, Twitter, LinkedIn), instant messaging (Yahoo Messenger, Skype, Line, WhatsApp) dan masih banyak lagi.
Dalam perkembangannya, banyak perangkat lunak yang dulu hanya kita bisa nikmati dengan menginstall aplikasi tersebut di komputer kita ,on-premise, mulai sekarang bisa kita nikmati lewat Cloud Computing
Keuntungannya adalah kita tidak perlu membeli lisensi dan tinggal terkoneksi ke internet untuk memakainya. Contoh, Microsoft Office yang sekarang kita bisa nikmati lewat Office 365, Adobe Suite yang bisa kita nikmati lewat Adobe Creative Cloud.
2. Platform as a Service (PaaS)
Layanan dari Cloud Computing yang kita analogikan jika kita menyewa “rumah” berikut lingkungannya (sistem operasi, network, database engine, framework aplikasi, dan lain-lain) untuk menjalankan aplikasi yang kita buat.
Kita tidak perlu pusing untuk menyiapkan “rumah” dan memelihara “rumah” tersebut. Yang penting aplikasi yang kita buat bisa berjalan dengan baik di “rumah” tersebut. Untuk pemeliharaan “rumah” ini menjadi tanggung jawab dari penyedia layanan.
Sebagai analogi, misalnya kita sewa kamar hotel, kita tinggal tidur di kamar yang sudah kita sewa, tanpa peduli bagaimana perawatan dari kamar dan lingkungannya. Yang terpenting kita bisa nyaman tinggal di kamar itu, jika suatu saat kita dibuat tidak nyaman, tinggal pindah ke hotel lain yang lebih bagus layanannya.
Contoh penyedia layanan PaaS ini adalah: Amazon Web Service, Windows Azure,  bahkan tradisional hosting pun merupakan contoh dari PaaS.
Keuntungan dari PaaS adalah kita sebagai pengembang bisa fokus pada aplikasi yang kita buat dan tidak perlu memikirkan operasional dari “rumah” untuk aplikasi yang kita buat.

3. Infrastructure as a Service (IaaS)
Layanan dari Cloud Computing dimana kita bisa “menyewa” infrastruktur IT seperti komputasi, storage, memory, dan network. Kita bisa definisikan berapa besarnya unit komputasi (CPU), penyimpanan data (storage), memory (RAM), bandwith, dan konfigurasi lainnya yang akan kita sewa.
Dengan kata lain, IaaS diibaratkan seperti menyewa komputer virtual yang masih kosong, dimana setelah komputer ini disewa kita bisa menggunakannya sesuka hati kita tergantung dari kebutuhan kitadan kita bisa menginstall sistem operasi dan aplikasi apapun.
Contoh penyedia layanan IaaS ini adalah: Amazon EC2, TelkomCloud, BiznetCloud, dan sebagainya.
Keuntungan dari IaaS adalah kita tidak perlu membeli komputer fisik, dan konfigurasi komputer virtual tersebut bisa kita rubah (scale up/scale down) dengan mudah. Sebagai contoh, saat komputer virtual tersebut sudah kelebihan beban, kita bisa tambahkan CPU, RAM, Storage dan lain-lain.
Setelah kita membahas tentang jenis-jenis dari cloud computing, kita akan membahas terminologi yang digunakan dalam cloud computing.
Apa itu terminologi? Suatu pengertian atau hal yang memperjelas suatu hal sesuai kondisinya. Sekarang mari kita bahas jenis-jenis dari Cloud Computing.

1. Public Cloud
Layanan Cloud Computing yang disediakan untuk masyarakat umum. Kita sebagai user tinggal mendaftar ataupun bisa langsung memakai layanan yang ada. Banyak layanan Public Cloud yang gratis tetapi ada juga yang harus membayar untuk bisa menikmati layanan-nya.
Contoh:
Public Cloud yang gratis, Windows Live Mail, Google Mail, Facebook, dan lain-lain.
Public Cloud yang berbayar, SalesForce, Office 365, dan sebagainya.

Keuntungannya adalah kita tidak perlu investasi dan merawat infrastruktur, platform ataupun aplikasi. Cukup memilih untuk memakai yang secara gratis atau bayar sejauh pemakaian kita.

Kerugiannya adalah sangat bergantung dengan kualitas layanan internet yang kita pakai, jika koneksi internet mati, maka kita tidak akan bisa memakai layanannya. Untuk itu, kita perlu pikirkan secara matang infrastruktur internetnya. Dan juga tidak semua penyedia layanan, menjamin keamanan data kita. Untuk itu, kita perlu hati-hati ketika memilih provider Public Cloud ini. Pelajari dengan seksama profil dan Service Level Agreement dari penyedia layanan.

2. Private Cloud
Layanan Cloud Computing yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan internal dari organisasi atau perusahaan. Biasanya departemen IT akan berperan sebagai Service Provider (penyedia layanan) dan departemen lain menjadi user (pemakai).
Sebagai Service Provider tentu saja Departemen IT harus bertanggung jawab agar layanan bisa berjalan dengan baik sesuai dengan standar kualitas layanan yang telah ditentukan oleh perusahaan, baik infrastruktur, platform maupun aplikasi yang ada.
Contoh layanannya:
SaaS: Web Application internal, Sharepoint, Mail Server internal, Database Server untuk keperluan internal.
PaaS: Sistem Operasi + Web Server + Framework + Database yang disediakan untuk internal.
IaaS: Virtual Machine yang bisa direquest sesuai dengan kebutuhan internal.

Keuntungannya adalah keamanan data terjamin, karena dikelola sendiri, menghemat bandwith internet ketika layanan itu hanya diakses dari jaringan internal, proses bisnis tidak tergantung dengan koneksi internet, tapi tetap saja tergantung dengan koneksi internet lokal (intranet).

Kerugiannya adalah investasi besar, karena kita sendiri yang harus menyiapkan infrastruktur-nya, butuh tenaga kerja untuk merawat dan menjamin layanan berjalan dengan baik.

3. Hybrid Cloud
Gabungan dari layanan Public Cloud dan Private Cloud yang diimplementasikan oleh suatu organisasi atau perusahaan. Dalam Hybrid Cloud ini, kita bisa memilih proses bisnis mana yang bisa dipindahkan ke Public Cloud dan proses bisnis mana yang harus tetap berjalan di Private Cloud.
Contohnya:
Perusahaan A, menyewa layanan dari Windows Azure (Public Cloud) sebagai “rumah” yang dipakai untuk aplikasi yang mereka buat, tapi karena aturan undang-udang yang berlaku, data nasabah dari perusahaan A tidak boleh ditaruh di pihak ketiga, karena perusahaan A taat pada aturan yang ada, maka data dari nasabah tetap disimpan di database mereka sendiri (Private Cloud), dan aplikasi akan melakukan koneksi ke database internal tersebut.
Perusahaan B, menyewa layanan dari Office 365 (Public Cloud), karena perusahaan B tersebut sudah punya Active Directory yang berjalan diatas Windows Server mereka (Private Cloud) maka kita bisa konfigurasikan Active Directory tersebut sebagai identitas untuk login di Office 365.

Keuntungannya adalah keamanan data terjamin, karena data bisa dikelola sendiri dalam hal ini tidak berarti bahwa menyimpan data di public cloud tidak aman, lebih leluasa untuk memilih mana proses bisnis yang harus tetap berjalan di private cloud dan mana proses bisnis yang bisa dipindahkan ke public cloud dengan tetap menjamin integrasi dari kedua-nya.

Kerugiannya adalah untuk aplikasi yang membutuhkan integrasi antara public cloud dan private cloud, maka infrastruktur internet harus dipikirkan secara matang.

Apa sih manfaat dari Cloud Computing?
Dari penjelasan tentang cloud computing diatas, ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari cloud computing, yaitu :

1. Skalabilitas, yaitu dengan cloud computing kita bisa menambah kapasitas penyimpanan data kita tanpa harus membeli peralatan tambahan, misalnya harddisk. Kita cukup menambah kapasitas yang disediakan oleh penyedia layanan cloud computing.

2. Aksesibilitas, yaitu kita bisa mengakses data kapanpun dan dimanapun kita berada, asal kita terkoneksi dengan internet, sehingga memudahkan kita mengakses data disaat yang penting.

3. Keamanan, yaitu data kita bisa terjamin keamanannya oleh penyedia layanan cloud computing, sehingga bagi perusahaan yang berbasis IT, data bisa disimpan secara aman di penyedia cloud computing. Hal itu juga dapat mengurangi biaya yang diperlukan untuk mengamankan data perusahaan.

4. Kreasi, yaitu para user bisa melakukan atau mengembangkan kreasi atau proyek mereka tanpa harus mengirimkan proyek mereka secara langsung ke perusahaan cukup dengan mengirimkannya lewat penyedia layanan cloud computing.

5. Tidak perlu cemas ketika terjadi bencana alam data milik kita tersimpan aman di cloud meskipun hardisk atau gadget kita rusak.

MOBILE COMPUTING
Adalah seperangkat benda atau teknologi yang memiliki teknologi secanggih yang sering disebut sebagai mobile computer (portable computer) dan mampu melakukan komunikasi dengan jaringan tanpa kabel (nirkabel) walaupun user atau pengguna dari alat tersebut sedang melakukan perpindahan.
Mobile computing juga merupakan teknologi yang dapat melakukan system distribusi data saat bergerak bebas dan dapat melakukan koneksi kembali pada lokasi jaringan yang berbeda.

Jenis-jenis Mobile Computing

1. Laptop
Laptop atau notebook adalah komputer bergerak yang ukurannya relatif kecil, dengan berat antara 1 hingga 6 kg. Fungsi laptop hamper sama dengan komputer desktop, hanya ukurannya yang diperkecil. Kebanyakan laptop menggunakan LCD yang ukurannya antara 10 hingga 17 inch. Sifat utama laptop yaitu ukurannya yang kecil, mudah dibawa kemana saja dan hemat energi. Karena banyak kelebihan yang dimiliki laptop maka harga laptop relatif lebih mahal daripada komputer desktop.

2. PDA (Personal Digital Assitant)
Alat elektronik berbasis komputer yang bisa dibawa kemana saja. Ciri khas PDA adalah touchscreen. Pada awalnya, PDA digunakan untuk mengorganisasi diri sendiri, tetapi seiring berjalannya waktu pengunaan PDA makin banyak, antara lain mengirim e-mail, akses internet, games, penggunaan GPS, rekam video, dan jaringan wireless.

3. Smartphone
Perangkat komunikasi elektronik yang bisa dibawa-bawa dan tidak perlu kabel untuk menghubungkan jaringan komputer. Dengan kata lain, smartphone adalah miniatur komputer dengan kemampuan ponsel. Umumnya terdapat dua jaringan smartphone yaitu GSM (Global System for Mobile Telecommunications) dan CDMA (Code Division Multiple Acces). Perangkat computing yang bisa dipasang di mobil. Biasanya digunakan untuk pemutar DVD, GPS, pengeras suara dan Bluetooth.

dan masih banyak lagi.
 
Kelebihan Mobile Computing

1.      Extreme Personalization
Mobile computing telah menjadi barang yang sangat penting bagi orang. Hal ini diumpamakan dengan kalimat ponsel diantara dompet dan kunci motor, dimana berarti ponsel yang termasuk mobile computer sama pentingnya dengan dompet dan kunci motor. Karena pentingnya itu, mobile computer kerap dipakai untuk menyimpan segala informasi pribadi.

2.      Pengaksesan Informasi setiap saat dan dimanapun
Dengan sifatnya yang portabel atau dapat dibawa kemana-mana dan bila didukung dengan koneksi internet, mobile computer dapat digunakan untuk bekerja, atau berbelanja secara online, maupun bermain dimana saja dan kapan saja. Tentu hal ini sangat memanjakan pengguna mobile computer.

3.      Kompatible yang tinggi dengan teknologi lain
Dengan kecanggihan yang dimiliki, mobile computer compatible dengan teknologi lain, sehingga mobile computer dapat memanfaatkan teknologi lain demi kemudahan sang pemakai.

Kelemahan Mobile Computing

1. Kurangnya Bandwith
Akses internet pada peralatan umumnya lebih lambat dibandingkan dengan koneksi kabel, dengan menggunakan teknologi seperti GPRS, EDGE dan jaringan 3G. LAN nirkabel berkecepatan tinggi tidak mahal, tetapi memiliki rentang yang sangat terbatas.

2. Konsumsi Tenaga
Ketika generator portabel tidak tersedia, komputer mobile harus bergantung sepenuh padanya daya baterai. Artinya, baterai yang mahal harus digunakan agar masa pakai baterai yang diperlukan.

3. Gangguan Transmisi
Faktor-faktor yang menyebabkan gangguan sinyal pada mobile computing seperti cuaca, jarak alat mobile computing dengan titik pemancar sinyal terdekat. Selain itu, penerimaan sinyal di dalam terowongan, di beberapa gedung dan daerah pedesaan seringkali buruk.

4. Potensi Terjadinya Kecelakaan
Banyak kecelakaan kendaraan baik mobil maupun motor sering disebabkan oleh pengendaranya yang menggunakan mobile saat sedang berkendara. Selain itu, penggunaan mobile yang lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

5. Antarmuka Pengguna dengan Alat
Layar  keyboard yang cenderung kecil membuat peralatan tersebut sulit digunakan. Input alternatif seperti input suara atau pengenalan tulisan tangan membutuhkan pelatihan untuk menggunakannya.

Ubiquitous Computing
disebut sebagai gelombang ketiga dalam komputasi. Yang pertama adalah konsep mainframe, dimana sebuah mesin dipakai oleh banyak orang bersamaan (one computer, many people). Sekarang kita berada pada era personal computer (komputer pribadi) yaitu seseorang menggunakan masing-masing mesin yang dimilikinya (one person, one computer). Karena komputer menjadi semakin murah dan menjadi sangat lazim, selanjutnya akan datang masa Ubiquitous Computing dan menjadi era “one person, many computers”.
Inti dari model Ubiquitous Computing (yang juga sering disebut Pervasive Computing) melakukan pembagian resource (sumber daya) yang ringan, tidak mahal, dalam jaringan pemrosesan handal secara bersama-sama dan terdistribusi ke dalam semua aspek kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, sebuah lingkungan Ubiquitous Computing yang menghubungkan kontrol penerangan (lampu) dan pemanas ruangan dengan alat yang dipasang pada pakaian kita sehingga kondisi penerangan dan suhu ruangan dapat dimodulasi secara terus-menerus dan tak kentara. Sistem tersebut seharusnya “hilang” dari pandangan dan diluar alam sadar kita. Salah satu sistem Ubiquitous pertama adalah “Live Wire” milik Natalie Jeremijenko. Merupakan sebuah tali yag dipasangkan ke sebuah stepper motor dan dikendalikan melalui koneksi LAN yang menyebabkan tali tersentak atau menegang sesuai kondisi dan traffic jaringan.

       Ubiquitous Computing memberikan tantangan kepada cabang ilmu komputer : dalam pendesainan dan pemodelan sistem, dan dalam hal user interface. Model interaksi manusia-komputer yang sudah jadul seperti command-line (text-based), menu-driven, atau yang berbasis GUI tidak cocok dan tidak mencukupi untuk masalah Ubiquitous Computing. Interaksi “alami” yang dibutuhkan harus segera dimunculkan, meskipun banyak model yang sudah mendekati interaksi seperti itu seperti contohnya telepon selular, digital audio player, GPS, dan interactive whiteboard.
Mark Weiser mengenalkan tiga bentuk dasar dari mesin Ubiquitous yaitu : tab, pad, dan board.

Contoh Ubiquitous Computing 
1. handphone
2. Elearning
3. Mobil 
4. Ruangan
5. Kulkas

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN 

1.    Handphone
•    Kelebihan 
Kita dapat mengakses informasi dimana saja dengan gadget yang dimiliki seperti handphone, smartphone, dan tablet.
•    Kekurangan 
Penyalahgunaan kemudahan mengakses informasi. Contohnya saat  mengakses informasi tentang soal yang sedang diujikan pada saat ujian.

2.    Elearning 
•    Kelebihan 
Memberikan kemudahan kepada seluruh mahasiswa ataupun pelajar dalam belajar tanpa harus datang langsung ke kampus atau sekolah.
•    Kekurangan 
Membuat mahasiswa ataupun pelajar menjadi malas karena tanpa ada pengawasan guru ataupun dosen.

3.    Mobil 
•    Kelebihan 
Sang engineer telah dilengkapi dengan sebuah badge pintar berisi microchip jadi saat mobilnya mendekati gerbang pagar rumah dan pemancaran mengenai kendaraan tersebut secara otomatis gerbang akan terbuka.
•    Kekurangan
Hanya mobil tertentu saja yang bisa membuka gerbang pagar rumah tersebut.

Perbedaan antara Grid Computing, Cloud Computing, dan Ubiquitous Computing.

·         Grid Computing (Dunia Akademis)
Fitur dari grid computing ini adalah mengumpulkan kluster-kluster yang ada menjadi sebuah komputasi besar. Definisi dari sebuah kluster adalah sekumpulan komputer yang biasanya identik dalam sebuah situs atau ruang server. Contohnya, Universitas Indonesia memiliki kluster Hastinapura yang tergabung dengan kluster di Universitas Gunadarma membentuk sebuah grid yang dinamakan InGRID. InGRID adalah sebuah usaha untuk membuat sistem Grid dengan menggunakan jaringan antar universitas (INHERENT).
·        
          Cloud Computing (Dunia Bisnis)
Cloud Computing bagaikan sebuah komputer maya raksasa yang digunakan oleh banyak orang atau organisasi atau entitas untuk memudahkan orang dan pemasaran.. Contoh penyedia komputasi ini adalah Amazon EC dan Microsoft Windows Azure. 
·         People Computing (Dunia Sosial/ Ubiquitous Computing/ Pervasive Computing)
People computing atau science adalah sebuah terminologi untuk menggunakan individu-individu sebagai penyedia data. Kemudian, data tersebut teragregasi dalam sebuah pusat pengolahan data dan kemudian diolah menjadi kesimpulan.

NANOSCIENCE
nanosains (nanoscience) atau nanoteknologi (nanotechnology), saat ini banyak diteliti oleh para ilmuwan luar negeri terutama di negara maju seperti Amerika, Eropa, dan Jepang. Nanosains pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli fisika bernama Richard Phillips Feynman pada tanggal 29 Desember 1959 dalam pertemuan tahunan Masyarakat Fisika Amerika (American Physical Society) di California Institute of Technology (Richard Phillips Feynman merupakan Pemenang Hadiah Nobel Fisika tahun 1965). Pada pertemuan tersebut, Richard Phillips Feynman memberikan gambaran dari istilah nanosains yang kita kenal sekarang ini dalam pidatonya yang berjudul “There’s Plenty of Room at the Bottom”.

Sebenarnya apa yang disebut dengan nanosains?
Nanosains dan nanoteknologi adalah studi perilaku benda-benda dan struktur pada skala yang sangat kecil yaitu sekitar 1 nanometer ( m) sampai 100 nanometer ( = m). Istilah nano berasal dari kata Yunani yang berarti kerdil. Satuan nano merupakan ukuran panjang sebesar sepermiliar meter atau 1/1.000.000.000 meter. Panjang 1 nanometer merupakan panjang dari barisan 10 atom hidrogen, suatu ukuran yang sangat kecil.

GRID COMPUTING
Grid computing adalah arsitektur yang menghasilkan sistem informasi perusahaan yang berbiaya rendah dan lebih adaptif terhadap bisnis, ia merupakan salah satu jenis dari komputasi modern. Grid computing juga dapat diartikan resource dan penyelesaian masalah terkoordinasi dalam organisasi virtual yang dinamis dan multi-institusional. Grid computing memiliki perbedaan yang lebih menonjol dan diterapkan pada sisi infrastruktur dari penyelesaian suatu proses. Grid computing adalah suatu bentuk cluster (gabungan) komputer – komputer yang cenderung tak terikat batasan geografi.
Pemilihan nama Grid sendiri adalah sebagai bentuk kiasan bagi pembuatan computer power agar dapat diakses semudah mengakses electric power, sehingga harus memiliki kemampuan untuk mengakses computing power (CPU), aplikasi perangkat lunak dan data penelitian dalam suatu bentuk “on-demand”.
Berikut adalah beberapa konsep dasar dalam Grid Computing:
  • ·         Sumber daya dikelola dan dikendalikan secara lokal.
Sumber daya berbeda dapat mempunyai kebijakan dan mekanisme berbeda, mencakup Sumber daya komputasi dikelola oleh sistem batch berbeda, Sistem storage berbeda pada node berbeda, Kebijakan berbeda dipercayakan kepada user yang sama pada sumber daya berbeda pada Grid.
  • ·         Sifat alami dinamis: Sumber daya dan pengguna dapat sering berubah.
  • ·         Lingkungan kolaboratif bagi e-community (komunitas elektronik, di internet)
Secara umum, elemen-elemen dari infrastruktur Grid adalah
  • ·         Hardware atau Sumber daya, tersedia dari site-site berbeda yang terdistribusi secara geografis, mencakup CPU atau Storage atau Instruments, dan lain sebagainya)
  • ·         Software, sesuatu yang menghubungkan bersama-sama semua sumber daya ini, middleware. Beberapa aplikasi untuk menggunakan sumber daya komputasi yang dibuat tersedia
  • ·         Orang-orang, siapa yang memelihara Grid dan Siapa yang menggunakan Grid
Middleware adalah lapisan atau layer perangkat lunak atau software yang terletak antara sistem operasi dan aplikasi. Elemen-elemen dasar dari Middleware ini adalah :
  • ·         Keamanan (security)
  • ·         Pengelolaan sumber daya (resource management)
  • ·         Pengelolaan data (data management)
  • ·         Layanan informasi (information services).
Tiga hal yang di sharing dalam sebuah sistem grid antara lain : Resource, Network, dan Proses. Kegunaan atau layanan dari sistem grid sendiri adalah untuk melakukan high throughput computing di bidang penelitian ataupun proses komputasi lain yang memerlukan banyak resource komputer.

Berikut ini contoh Beberapa kluster atau grid computing yang ada di Indonesia adalah:
·         Penggunaan Grid Computing System untuk perusahaan-perusahaan akan banyak memberikan manfaat, baik manfaat secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa manfaat tersebut antara lain :
  • ·         Grid computing menjanjikan peningkatan utilitas, dan fleksibilitas yang lebih besar untuk sumberdaya infrastruktur, aplikasi dan informasi. Dan juga menjanjikan peningkatan produktivitas kerja perusahaan.
  • ·         Grid computing bisa memberi penghematan uang, baik dari sisi investasi modal maupun operating cost–nya.
Dan beberapa hambatan yang dialami oleh masyarakat Indonesia dalam mengaplikasikan teknologi grid computing adalah sebagai berikut :
  • ·         Manajemen institusi yang terlalu birokratis menyebabkan mereka enggan untuk merelakan fasilitas yang dimiliki untuk digunakan secara bersama agar mendapatkan manfaat yan lebih besar bagi masyarakat luas.
  • ·         Masih sedikitnya Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam mengelola grid computing. Contonhya kurangnya pengetahuan yang mencukupi bagi teknisi IT maupun user non teknisi mengenai manfaat dari grid computing itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Dampak COVID-19 terhadap Sektor TIK di Indonesia

Setelah fokus pada dampak bisnis secara umum, kali ini akan fokus pada dampak COVID-19 terhadap bisnis IT. Selain sektor perminyakan, ...